Tampilkan postingan dengan label sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sosial. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 November 2011

Tak Ada yang Tau

Sabtu pagi kemarin, bendera kuning ada di dekat gang rumah kakak saya *saya menumpang di rumah kakak. Kabarnya, Jumat malam, Pak RT (saya tidak mengenal namanya) berpulang kehadiratNya. Kabar itu tentu saja mengejutkan warga di sekitar rumah Pak RT. Bagaimana tidak, Jumat malam, Pak RT masih aktif bermain pingpong, kegiatan rutin warga. Ya, Pak RT berpulang saat bermain pingpong.

Tak ada yang tau kapan waktu pulang kita tiba. Kita hanya tau, suatu saat kita akan kembali padaNya. Caranya berbeda- beda tiap orang. Semua atas kehendakNya. Saat itu tiba, bisa jadi kita siap, bisa jadi tidak. Saya meyakini, selama kesempatan masih ada, sebanyak- banyaknya melakukan yang baik menurutNya. Sebanyak- banyaknya menabung kebaikan. Saya, ataupun Anda, tak tau kapan panggilanNya tiba.

Tak ada salahnya, setiap pagi saat kita membuka mata, memulai hari dengan ucapan tulus dari hati : Terimakasih, Engkau masih memberikan kesempatan saya untuk hidup dan berkarya. Terimakasih...

Kamis, 03 November 2011

Jiwaku Sehat karena Kereta

 
Kemarin, BCL ngambek di Manggarai. Gangguan sinyal, itu alasannya. Baiklah...beberapa penumpang , termasuk saya turun dari kereta dan mencari alternatif angkutan lain. Telpon saya berbunyi, di ujung sana, teman saya menelpon. “Say, naik taksi aja yuk bareng- bareng”. Oke..done...saya pulang bersama teman sekantor saya, ditambah teman saya dan teman dari teman sekantor saya, pas 4 orang untuk naik dan patungan ongkos taksi.

Ternyata, keberuntungan masih ada pada saya. Tiket yang saya beli di stasiun Cikini, bisa ditukar di loket. Kembalilah 6500 rupiah ke kantong saya. Kami pun bergegas mencari taksi. Namanya juga manggarai..tak ada taksi lewat, yang ada hanya kemacetan, dan..ada Metro Mini jurusan Manggarai – Kampung Melayu yang menyambut kami. Kami, ber-4 naik metro mini tersebut.Pikir kami, kalau sudah sampai di jalan besar pastilah banyak taksi yang bisa mengantar kami ke Bekasi.

Di sebelah saya, ada seorang Ibu yang bertanya :'Mau ke Bekasi, Mbak?udah ada temennya?”, “Iya,Bu..sudah 4 orang”, jawab saya. Lalu, Ibu itu mecari 'rombongan' lain yang masih mungkin untuk diajak naik taksi bersama. Sayang, semua sudah dengan rombongan masing- masing. Dan, di tengah perjalanan, abang kernet berteriak :”Mau ga, sampai Bekasi Barat tambah goceng lagi?”, dan semua serempak menjawab: “MAUUUU”. Ya...baru kali ini saya ke Bekasi lewat jalan tol dengan moda transportasi: METRO MINI dengan tarif tujuh ribu saja. Saya hitung jumlah penumpangnya: 27 orang! Hmmm...apa mereka nggak rugi ya? Semoga berkat rejeki melimpah di Metro Mini itu.

Pulang pergi naik kereta dan berada di gerbong yang sama, membuat saya mulai mengenali wajah penumpang yang lain. Saya suka lirik kanan, lirik kiri, dan menjalin komunikasi dengan mereka. Pertanyaan standar biasanya jadi topik perbincangan. Kerja di mana, rumah di mana, orang mana, dan bagaimana perjalanan kereta. Terakhir, tukar menukar nomer telepon. Berguna loh...contohnya ketika kereta mengalami gangguan, kami bisa saling tukar info, tukar pengalaman dan bisa nebeng bareng. Lagipula, berkomunikasi dengan beberapa penumpang lain di kereta membuat perjalanan kereta menjadi menyenangkan...eh tau- tau udah sampai aja !!!

Jadi, kalau sedang naik kereta, lirik kanan lirik kiri boleh juga kok...siapa tau bisa kenalan, ya kan?? Ah, saya menemukan manfaat kereta untuk kesehatan jiwa . Pertama, melatih kesabaran, kedua melatih empati, dan ketiga menjalin komunikasi.
Anda masih ragu untuk naik kereta ???

ENJOY!!!

Rabu, 02 November 2011

Seni Adaptasi

Terinspirasi dari perjalanan kereta kemarin. Tiap pagi, saya mengejar kereta,berebut  supaya dapat duduk nyaman di kereta...pulangnya juga begitu...mengejar kereta,berebut  untuk masuk dan dapat  berdiri nyaman di kereta...kereta makin berjubel...sepertinya krl sukses menaikkan jumlah penumpang sejak ganti haluan jadi commuter line :p

Saya ingat kata-kata salah seorang teman. Dulu saya  sering mengeluh ketika saya hatrus berjibaku di tengah kemacetan. Dulu, saya mau tak mau melewati  kemacetan dari Rasuna Said - depan MPR - Slipi...duh,kok makin hari makin macet...Saat itu belum ada busway rute cililitan- grogol seperti sekarang..Teman saya tadi mengatakan  Jakarta akan tambah macet sampai stuck,volume kendaraan akan terus bertambah...sampai saatnya nanti,  mau tak mau akan ada moda transportasi massal buat menanggulanginya...sekarang yang bisa dilakukan adalah adaptasi bukan menggerutu..

Menurut saya,  keadaan yang sulit membuat kita adaptasi..adaptasi itu membuat kita bertahan dengan keadaan ...dulu saya  naik kopaja, kemudian beralih  ke busway...dulu saya  selalu bawa kursi lipat di kereta,tapi sekarang saya  kuat berdiri...kenapa bisa begitu? karena adaptasi kan...badan menyesuaikan diri dengan keadaan.Emosi menyesuaikan diri dengan situasi.

Contoh lain lagi...dulu saya baru bangun jam 7 pagi,sekarang saya bisa bangun jam setengah 5 bahkan jam 4 pagi...adaptasidengan waktu...dan ternyata selalu saja ada faktor faktor pendukung untuk beradaptasi.

Menurut saya,setiap orang pasti bisa adaptasi tapi dengan kecepatan adaptasi yang berbeda2..ada yang cepat ada yang lambat dan kecepatan itu dipengaruhi observasi lingkungan dan pemikiran untuk menentukan langkah adaptasi..

Adaptasi memang tidak mudah.Saya juga merasa seperti itu...Reaksi awal terhadap suatu keadaan yang tidak mengenakkan  pastilah mengeluh dan protes..Nah setelah itu,baru berpikir, observasi terhadap lingkungan...Dan, menikmati setiap peristiwa tampaknya jawaban yang tepat untuk melatih saya beradaptasi.

Selasa, 25 Oktober 2011

Sabar itu Tidak Ada Batasan

Sabar...itu kata teman saya ketika saya mengeluh padanya. Teman saya menambahkan; 'kalo kamu belum bisa, berarti Tuhan masih menguji kesabaranmu, bertahanlah...'

Saya bukan orang yang sabar...dalam pikiran saya, sabar itu berarti mau menunggu, giat melakukan suatu tindakan secara kontinue dan bisa mengendalikan kemarahan dan rasa kesal. Ya, 3 kriteria itu tidak saya miliki, saya malah kebalikan tiga kriteria itu.

Teman saya bilang : 'Aku puasa, say...' Saya, belum sampai tahap ini. Tapi saya percaya, puasa merupakan suatu cara untuk melatih kesabaran. Teman saya menegaskan :' Ya udah , say...kamu berdoa aja...minta yang terbaik'. Saya pun melakukannya.

Sabar itu tidak ada batasan. Tidak ada batasan waktu, tepatnya. Semoga saya mampu menjadi pribadi yang sabar...


*note : terimakasih, Neng...

Sabtu, 24 September 2011

Mengutip Judul Film : Pacar Ketinggalan Kereta !

            Ssstt...jangan terkecoh judulnya ! saya cuma mengutip judul film itu. Intinya, 2 hari berturut- turut..saya kecewa dengan BCL (bekasi commuter line). Kecewa dengan jadwalnya yang super duper molor, sukses membuat saya terlambat ke kantor dan sukses membuat saya pulang lebih malam daripada biasanya. Plus...saya kecewa dengan sesama komuter di gerbong wanita.
           Rabu, 21 September 2011, tepat 3 bulan menjelang usia saya yang ke-27 *pemberitahuan terselubung...jangan lupa kadonya ya :p* BCL ngambek. Dimulai dari Buaran, laju kereta mulai tertahan, kereta bergerak lambat. Di Cipinang, kereta sama sekali tak bergerak. Diam seribu bahasa, yang saya dengar cuma suara mendengus kesal, termasuk saya. Jam setengah 8, kereta masih tertahan di Cipinang. Tak ada pengumunan apapun dari kabin masinis.  Ada beberapa penumpang yang gelisah...dan sangat menunjukkan kegelisahannya.  Sebut saja ibu A yang amat sangat gelisah, rupanya dia bekerja di teller sebuah bank ternama di kawasan Gambir. Dengan suara yang kenceng...Ibu tersebut berkata: "aduh..pasrah aja deh...udah telat begini, ga jalan-jalan..pasrah deh pasrah...", " Aduh gimana nih nasabah..aduh atasan saya nelpon2 terus..." LOL ! Pasrah tapi kok kawatir??? Ribut banget!!! Heboh!!! Begitu kereta berhenti di Jatinegara *yang lagi- lagi lama*, Ibu itu cari teman untuk turun dari kereta dan berniat menumpang ke salah satu kereta eksekutif yang akan menuju Gambir. Ibu tersebut ajak sana ajak sini, sambil kata - kata PASRAH yang terus diucapkannya... akibatnya...jesss...jesss...jesss....kereta eksekutif mulai melaju, dan Ibu itu tak bergerak sedikitpun sambil lagi- lagi berkata 'pasrah deh..pasrah deh..' LOL...Nah Ibu B, lain lagi. Tidak tinggal diam seperti Ibu A. Tapi gedor- gedor pintu kabin masinis. 'kenapa keretanya nggak jalan, rel sebelah sudah dilewati 3 kereta'  Masinis menjawab : 'karena itu kereta patas, Bu..menuju Senen.' 'ah apa bedanya, sama aja kan?' Masinis menjawab : 'beda Bu..ini mau ke Manggarai, lewat jalur atas' "Ah sama aja...' * tetep ngotot*  LOL...
Dan..hari itu..saya terlambat 45 menit sampai kantor !  Sudah telat, ada tambahan ongkos pula...saya harus naik bajaj dari Gondangdia ke kantor...Dan...saya dapat surat keterangan keterlambatan kereta dari stasiun...Kereta hari itu terlambat karena DCL (Depok Commuter Line) mengalami mogok di Manggarai...dan gangguan wesel...hffftttt
Nah, ini dia surat keterangan keterlambatan kereta api
          6  Waktu pulang tiba! Menumpang seorang teman sampai stasiun Cikini. jadwal di Cikini seharusnya jam 6 kurang seperempat. Kereta baru datang 6 lewat...Dan saya sampai di stasiun Bekasi jam 7, dari jadwal seharusnya 6.15. Kondisi kereta ???? RAME GILA !!!! iyalah..kalo jadwal kereta on time, karyawan yang pulang jam setengah 6 biasanya tidak bisa mengejar jadwal ini..ikut jadwal berikutnya. Nah karena terlambat, terjadilah penumpukan penumpang...Jangankan duduk, bisa berdiri dengan nyaman saja sudah lumayan.
Tebak...mana tangan saya ? Rame cuyyyy !!!
Nah, waktu pulang, ada cerita seru lain. Seorang mbak- mbak yang baru pertama kali naik KRL berkata :'Aduh..jangan dorong...' panik mode on...Teman saya spontan berkata :' Hamil, Mba? Kalo hamil duduk di kursi prioritas aja..' Jawab Mbak itu :' Nggak..saya didorong terus...' Teman saya yang tadinya simpati, termasuk saya *menyangka dia hamil* langsung bilang: 'Udah biasa Mba...emang didorong- dorong'

Tiap kali naik kereta, saya paling sebal sama sesama penumpang yang menggunakan kursi lipat dengan tidak bijaksana. Maksud saya tidak bijaksana kalau nekad menggunakan kursi lipat saat keadaan kereta penuh sesak...'Berdiri donk Bu...semua juga pengen naik..' atau kalo keterlaluan, saya pernah mengucapkan : 'Kalo mau duduk , naik taksi aja Bu'. Pernah juga saya mengatakan : 'Moga- moga di jatinegara banyak yang naik.' dan saya mendapati beberapa mata melihat saya kesal...Semua pengen naik kereta kan? semua pengen ga kena macet kan? duduk sama rendah...berdiri sama tinggi...kalo nekad duduk, jangan marah kalo kena tas orang yang berdiri :p atau wajah pas banget ngeliat pantat orang...:p


Makin banyak penumpang, makin banyak sampah..ya koran bekas duduk di lantai, ya tissue, ya plastik kemasan, ya daun lontong...duh..kenapa nggak dibawa pulang sih sampahnya?? kalo keretanya bersih, nyaman kan???
Please...buang di tempat sampah bukan di gerbong...:(

          Nah, di kereta yang penuh sesak...penumpang wanita dilarang tampil chic dan fashionable...kenapa? karena rempong ! Pertama... kebanyakan penumpang wanita membawa tas 2. tas utama yang fashionable...*kecil juga sih* dan tas tentengan... ribet bawa dan makan tempat !Kedua...jangan pakai highheels...kadang-kadang kereta tidak stabil, terutama jika pindah rel... Pernah, kaki saya terinjak hak sepatu yang runcing...sakit!!! mau marah ga bisa...namanya juga kondisi darurat..:p Ketiga...rambut panjang mohon diikat..Kenapa? saat kereta dalam keadaan penuh biasanya kipas angin kereta dinyalakan untuk memperlancar aliran udara di dalam kereta...Well, rambut panjang itu akan berkibar dengan sukses...mengenai wajah orang lain...males kan???
          Well..naik kereta tetep seru kok..bisa dapat kenalan baru...*saking seringnya barengan* , olahraga gratis plus sauna...tak lupa melatih kesabaran dan empati... jadi, masih ragu naik kereta???


ps: kereta makin oke kalo jadwal dan jumlah gerbongnya ditambah..wish wish wish...


ENJOY !!!!!!

Senin, 15 Agustus 2011

SUDAH BIASA !!!!


Pagi ini, ponsel saya berdering , panggilan dari Pak X, staff sebuah dinas.  Basa basi Bapak tersebut menanyakan, kapan saya akan ke kantornya, dan menanyakan apakah akta yang beliau minta sudah disiapkan , juga surat permohonan apakah sudah dibuat. Ujung-ujungnya minta upeti nih, pikir saya. Kenapa saya berpikiran demikian? Well, pengalaman saya selama 3 tahun lebih- hampir 4 tahun sebagai legal staff membuat saya mengerti 'kode-kode upeti'. Saya yakin, dokumen yang saya sertakan sudah lengkap, ya iyalah lengkap, kan tiap permohonan selalu dilampiri check list? Jika tidak lengkap, seharusnya sejak awal Beliau mengatakan: dokumen tidak lengkap, kan?
Ternyata dugaan saya benar ! ‘Mba, akta dilengkapi ya, surat permohonan juga dilengkapi, sama sekalian dananya, biar cepat’ Glek!! Jadi pagi ini menelpon saya sebenarnya hanya ingin mengatakan: dananya ya, biar cepat ! Bukan rahasia memang jika pengurusan dokumen seperti ini membutuhkan upeti. Jumlahnya bisa bervariasi tergantung negosiasi yang dilakukan.  Dulu, saya takut- takut juga dengan praktek semacam ini. Takut tidak dipercaya kantor, *sebagian besar upeti tentunya tidak disertai bukti tertulis*, takut jika tidak memberi urusan jadi tidak lancar. Tapi, lama kelamaan saya sudah biasa. Maksudnya biasa mengalami hal- hal semacam ini. Akhirnya saya punya tips seperti ini. Pertama , kalimat pamungkas jika menghadapi kasus seperti di atas adalah: ‘Yah, kemarin kan sudah Pak. Kantor saya kan Cuma kasih saya 2x bayar. Pertama untuk biaya percepatan, kedua untuk ambil dokumen. Kalo dokumennya belum jadi, saya nggak bisa ngeluarin uang.’ Ditambah dengan kata- kata mujarab ‘ Masa saya ambil dari kantong saya Pak, ntar saya nggak makan dong..kasian kan anak kost’ Jangan lupa ketika mengucapkan kalimat sakti itu, berikan senyum yang tulus…Masih kurang juga? Tambahkan kata-kata ‘Masa sih nggak percaya sama saya?kan bisa telpon ke kantor saya’ Biasanya jawaban yang akan kita peroleh adalah : ‘Yah, yang tanda tangan di dalam minta tuh Mbak’, Nah, berikanlah jawaban,’Apa perlu saya ke dalam untuk menjelaskan?’ Biasanya sih jawaban ini jitu…langsung mengkeret dan yang bersangkutan bilang ,’nggak usah, Mba..nanti saya usahakan’ NAH!
Tapi nggak semua urusan dokumen perlu upeti kok. Beberapa bahkan gratis dan sesuai prosedur.  Ada juga beberapa yang tadinya meminta upeti yang jumlahnya tidak sedikit langsung banting harga. Why? Yup..dengan pendekatan kata- kata dan basa – basi ! Yang ada malah obrolan ringan..cerita dari urusan sekolah, rumah tangga bahkan jodoh! Bahkan saya pernah diberi uang dari hasil upeti ini. ‘Untuk makan siang mba…’ begitu katanya…LOH..saya kasih upeti, eh, sedikit dari upeti itu diberikan pada saya. Penyebabnya adalah saya kekeuh minta kwitansi! Tenang..uang makan siang itu saya kembalikan ke kantor kok..:D
Saya kadang tidak habis pikir praktek semacam ini tumbuh subur. Kalau jumlahnya tidak seberapa , sekedar ongkos transportasi atau makan siang sih tidak masalah, tapi jika jumlahnya keterlaluan, saya terbakar juga..kesannya kedudukan menjadi tolok ukur. Biasanya saya akan bernegosiasi. Hmmm…negosiasi nominal upeti itu mirip nawar sayur di pasar !!! Apa boleh buat, hal semacam ini sudah biasa…
Urusan dokumen semacam ini sudah biasa saya lakukan. Hitung- hitung menjalin kerjasama kan? Saya nggak mau rugi donk, saya sudah memberikan upeti , tentunya saya minta balasan dengan bertanya tentang dokumen. Jika sudah tercipta chemistry, mereka terbuka kok untuk menjelaskan tentang dokumen. 
Semoga, segala urusan dokumen lancar jaya, tidak ada kesulitan berarti, dan jumlah upeti yang semakin berkurang…Amin…*kasihan finance, bikin report miscellaneous mulu dari tranksaksi yang saya lakukan :p*

Kamis, 07 Juli 2011

Si Single yang Harus Naik Single Operation

            2 Juli 2011, akhirnya KRL Commuter Line dengan pola single operation resmi dimulai. Keluhan di sana sini masih ada saja. Di jam- jam 'panas' kereta menjadi transportasi yang tidak manusiawi. Kereta yang terlambat datang sesuai jadwal dan penumpang yang penuh sesak adalah 2 keluhan utama saat jam panas itu. Saya pun mengalaminya. 
mengubah jadwal kereta yang tadinya jam 7 tepat menjadi 6.25. Beda setengah jam sih, tapi effortnya luar biasa ! Untunglah, saya belum mempunyai tanggungan apa- apa selain diri saya sendiri. Saya membayangkan penumpang lain yang meninggalkan keluarganya lebih pagi dari biasanya. Rugi waktu! Entah kenapa, 4 loket karcis yang seharusnya beroperasi hanya 3 yang buka, 1 untuk kelas ekonomi, 1 untuk commuter line. Bisa dibayangkan, antrian mengular. Lagi- lagi, rugi waktu! Saya harus berada di baris antrian pertama jika ingin mendapatkan tempat duduk. jadi, begitu pintu kereta terbuka, saya harus berebut masuk dengan ibu-ibu yang lain. *saya selalu duduk di gerbong wanita* Saling sikut, saling dorong, adalah pemandangan yang lumrah tiap kali masuk gerbong kereta. begitu dapat tempat duduk, hmm jangan senang dulu! di depan saya akan ada ibu- ibu lain yang akan menggelar kursi lipatnya untuk duduk. Beradulah lutut saya dengan ibu itu. dan jangan berharap melonjorkan kaki seperempat saja. Tak bisa..kereta akan penuh.
Perjalanan menjadi kurang lebih satu jam...sabar...:D
           Jam panas di sore hari lebih seru lagi.Setiap pulang, bisa dipastikan, saya tidak akan berdiri sempurna di kereta. Mengapa? karena saya naik dari stasiun Gondangdia, artinya, penumpang sudah memenuhi kereta sejak Kota, Juanda, Gambir. Jangankan pegangan nyaman, dapat pegangan aja udah lumayan. Dan...tidak ada kursi lipat! Nekad pakai kursi lipat? bersiaplah tebal muka dan tebal telinga diomongin orang..oh ya, siap- siap juga kepala kena tas, punggung kena lutut orang..hehehe...saya suka begitu ke orang yang duduk di kursi lipat sih...:p heran deh, masih ada aja yang naik dari Jatinegara...rupanya, banyak juga yang memanfaatkan BCL ini.
Saya suka tertawa dengan komentar- komentar di Solidaritas Jabodetabek untuk KRL yang Lebih Baik. Ada aja...tapi yang menarik adalah komentar pedas yang mengatakan bahwa kebanyakan yang ga setuju dengan single operation adalah ex penumpang ekspress. Menurut komentar itu, penumpang ekspress tuh malas karena ga mau berangkat pagi... Ha ha ha...bukan males kale...tapi namanya fasilitas dengan uang yang jauh lebih ya harusnya sepadan dunk...Toh, kalo ekpress dinaikin tapi cepat juga tetep aja laku. Yakin deh...penumpang ekspress berani bayar lebih untuk waktu tempuh yang lebih cepat ! * mulai emosi* Jelas- jelas yang dibeli dari ekspress tuh waktu tempuhnya bukan ACnya, bukan kursi empuknya juga bukan gangguan sinyalnya.
          Nah, saya punya saran. Sebaiknya, gerbong KRL tuh diganti aja dengan kereta barang. Nah di lantai nya ada petak ukuran 30 x 30 cm . nah tiap orang, lahannya di situ. Adil kan? Konsekuen dunk..kereta muatnya untuk berapa orang. Terus, tetep ada tuh KRL ekpress. Jadi bayar lebih mahal. terus ada tuh commuter line yang seperti ac ekonomi dan ekonomi. Ah, tapi saya miris lihat kondisi kereta ekonomi. Kok bisa ya kereta yang seperti itu jalan?Ah, jangankan lihat interior dalamnya, luarnya aja udah keliatan banget tak terawat. Pantas lebih banyak yang duduk di atap.Isis ! *dingin*
           Tapi, apa boleh buat...tampaknya kereta menjadi sarana transportasi yang tidak merepotkan untuk saya. Sebenarnya, saya bisa naik apa saja sih. Pertama, naik motor...Kedua naik bis. Ketiga naik mikrolet. Setelah saya hitung- hitung waktu dan tenaga..tampaknya ketiga pilihan itu beda- beda tipis dengan naik kereta. Jadi, tak apalah naik kereta...single ini..ga punya tanggungan di rumah...jadi bebas pulang jam berapapun..ha ha ha ha
ENJOY!

Kamis, 30 Juni 2011

Menutup Juni : Satu Jam yang Berharga

            Tak terasa, hari ini tanggal 30 Juni. Tak terasa, hari ini pertengahan tahun. Tak terasa..besok weekend lagi.Hari ini saya menutup Juni dengan sesuatu yang tidak biasa. Ya, mulai hari ini, jam biologis saya berubah. Penyebabnya tak lain tak bukan adalah kebijakan KAI dengan single operation-nya. Setiap KRL baik commuter line atau ekonomi akan berhenti di tiap stasiun. Konsekuensinya jelas, butuh waktu ekstra dari biasanya. Demi sesuap nasi dan mudah-mudahan berlian, saya pun mau tak mau harus berangkat lebih pagi dari biasanya.
          Semalam, saya sudah mempersiapkan diri untuk hari ini. Baju kerja sudah saya siapkan, tas dan peralatan kosmetik saya sudah saya masukkan, handphone sudah saya charge. Jadi, begitu saya bangun, saya tinggal mandi, makan, dan berangkat. Itu rencana saya semalam. Dan...ketika alarm berbunyi pukul 5 tepat..saya bangun, kemudian tidur ayam- ayam sekitar 15 menit. Berikutnya, mandi, makan. Jam 6 kurang 5 saya sudah menuju stasiun. Saya akan naik kereta jam 6.25. Eng...ing...eng...keretanya PENUH!!!!Dan..saya baru sampai kantor jam 7.50! Damn...kebijakan macam apa ini? 
            Cerita waktu pulang kantor lain lagi. Saya ikut KRL Bogor ke Juanda. Pilihan saya tepat. Di stasiun Gondangdia penumpukan penumpang terjadi...Damn *lagi* Dan...di cikini, manggarai, jatinegara..masih ada aja yang naik...keretanya bukan sesak lagi..tapi berdiri sempurna pun saya tak mampu. Untung saya berada di gerbong wanita. Kalo di gerbong umum? hufffttt...ga kebayang gesekan- gesekan yang terjadi. 
            Selama perjalanan pulang, saya lihat ibu- ibu di sekitar saya. Ada yang muda,ada yang setengah tua, ada yang tua. Saya masih merasa beruntung...saya pulang tak ada yang menunggu...kalau ibu - ibu ini? Berapa jam mereka meninggalkan rumah, meninggalkan , terutama anak- anak mereka. Berapa jam waktu yang tersisa untuk anak- anak mereka? Jika biasanya mereka bisa naik kereta jam 7 pagi, artinya mereka masih sempat memandikan anak mereka misalnya, dengan jadwal yang baru, apa mereka harus keluar rumah saat anak-anak masih terlelap? Jika biasanya mereka bisa sampai jam 6 sore, artinya mereka masih sempat menemani anak- anak mereka mengerjakan PR , apa mereka sekarang masih sempat melakukan itu? Sungguh, kebijakan baru ini membuat jam biologis penumpang menjadi berubah. Dan konsekuensinya : satu jam yang berharga hilang begitu saja. Hmmm...apakah pembuat kebijakan mempertimbangkan hal ini ya? Belum lagi, dengan molornya jadwal membuat emosi penumpang juga diuji. Kalo emosi ini terbawa ke rumah, siapa yang kena imbasnya? Anak- anak juga kan?
          Ah, saya yakin, semua ini hanya butuh adaptasi. Bukankah hidup di kota harus pandai- pandai adaptasi? Lama- lama akan terbiasa...dan  semoga, pembuat kebijakan komuter memikirkan masak- masak sebelum membuat kebijakan yang aneh- aneh seperti sekarang. Dan buat ibu- ibu yang saya temui tadi, 2 jempol untuk mereka..untuk perjuangan mereka...semoga tawa anak- anak mereka membuat mereka semakin yakin, apa yang mereka lakukan juga untuk kebaikan anak- anak. ENJOY KRL COMMUTER LINE ...welcome single operation !


ps....selamat meninggalkan Juni...semoga bulan Juli menjadi bulan yang penuh kebahagiaan untuk teman- teman semua!

Senin, 27 Juni 2011

Senin yang Memilih


Hari ini hari Senin. Hari yang sibuk bagi sebagian karyawan. Senin ini juga Senin yang agak sibuk untuk saya. Tapi di sela- sela ke ‘agak sibukan’ saya itu, saya masih sempat mengobrol dengan seorang teman di dunia maya. Obrolan saya hari ini sebenarnya lanjutan dari obrolan sebelumnya. Tentang Jakarta. Ya, ibukota ternyata bagi beberapa orang tidak bersahabat, menyeramkan dan kadang kejam. Untuk saya? Biasa saja.
            Singkat cerita, teman saya ini berbagi cerita bahwa dia mulai stress dengan kemacetan ibukota. Siapa sih yang tidak mengeluh tentang kemacetan Jakarta yang akhir- akhir ini semakin menggila? Teman saya juga  kurang menyukai udara Jakarta. Siapa sih yang tidak mengeluh tentang polusi dan hawa panas di Jakarta? Saya berani bertaruh, kalau tidak menuruti kebutuhan dapur dan perut, pendatang di Jakarta sudah ingin kembali pulang ke daerah asalnya.
            Macet!
            Sebelum saya pindah ke bekasi, saya kos di daerah Anggrek Nelly, Slipi, Jakarta Barat. Kantor saya dulu di kawasan Rasuna Said, tepat di seberang kedutaan Australia. Sebenarnya, jika jalanan lancar, saya hanya butuh 45 menit untuk sampai ke kantor. Tapi, saya butuh waktu 1,5 jam untuk menempuh perjalanan Rasuna Said ke Anggrek Nelly. Jangan bayangkan saya naik angkutan umum yang nyaman. Pertama, saya naik kopaja 66 dari seberang kantor untuk keluar dari kawasan kuningan. Berapa waktu tempuhnya ? Ya ! hampir 40 menit. Setelah itu saya naik 46 atau P6. Berapa waktu tempuhnya? hampir satu jam ! Biasanya saya terjebak macet di gatsu dan MPR. Dulu, saya mengumpat dalam hati ! DAMN! Mobil gede- gede isinya Cuma tuan sama sopirnya, lihat dunk saya, kena asap sana sini. Tapi, lama- kelamaan saya terbiasa dengan macet itu. Dengarkan music, siapkan kipas dan camilan. Beres ! Jadi, daripada mengeluh dan mengumpat kemacetan, lebih baik menikmatinya kan? Yakinlah, semakin menyumpahi macetnya, semakin frustasi Anda dibuatnya.
            Polusi !
            Alasan saya memilih kos di daerah Anggrek Nelly karena daerah tersebut masih memiliki paru- paru udara di daerahnya. Ya, saya masih merasakan duduk di taman, burung kecil yang berkicau di pagi hari, yang pasti sekeliling saya bukanlah gedung bertingkat. Tapi, begitu keluar dari kompleks perumahan, saya akan menutup hidung saya dengan saputangan handuk yang selalu saya bawa. Asap  bis umum di Jakarta memang keterlaluan. Wajar, jika batuk dan pilek sering saya alami.
            Dulu, saat saya melakukan tugas saya di daerah Jakarta Utara, saya kaget dengan daerahnya. What? Saluran airnya tersumbat! Warnanya itu loh…menjijikkan! Tapi, manusia punya batas toleransi terhadap lingkungan sekitarnya. Tubuh akan menyesuaikan diri dengan lingkungan. Buktinya, dengan sanitasi yang seburuk itu, rasanya belum pernah ada wabah penyakit mematikan di daerah itu kan?
            Hidup itu Pilihan
            Hidup itu pilihan. Setiap pilihan punya konsekuensi. Setiap konsekuensi butuh adaptasi. Itu sudah hukum alam. Buat saya, masalah bukan terletak di Jakarta atau di kota yang lebih kecil. Menurut saya, permasalahan terletak pada diri sendiri, siapkah menerima konsekuensi dan beradaptasi dengan lingkungan? Jika tidak, silahkan pulang dan berkaryalah dengan hati yang tenang. Sekali lagi, hidup itu pilihan.


*didedikasikan untuk orang- orang yang membenci Jakarta*

Sabtu, 18 Juni 2011

Seri Kereta : Cerita di Tiap Stasiun


Stasiun Gondangdia, Pukul 17.20
A, adalah pedagang koran, majalah dan tabloid. Mengenakan rompi hijau muda terang dengan kantong di kiri dan kanan. Rambut gondrong, badan kurus. Melompat dari jalur 1, menyeberang rel, naik ke jalur 2. Begitu sebaliknya. Lumayan, ada juga  yang beli. Berapa penghasilannya? Entahlah, yang pasti kantongnya terisi uang receh dan lembar ribuan. Mungkin, sekali lagi mungkin, ada dana khusus yang dia sisihkan untuk membeli param kocok. Tidak mudah melompat dan naik jalur peron stasiun.
B adalah pengamen. Membawa tongkat, ya, penglihatannya kurang. Jalannya lurus, sesekali berhenti jika tongkatnya mengenai kaki orang. Lumayan, ada yang memberinya recehan di plastik bekas kemasan softener yang dibawanya. Berapa penghasilannya? Mungkin, sekali lagi mungkin, ada dana khusus yang dia sisihkan untuk memperbaiki radio butut yang jadi andalannya saat mengamen.
Stasiun Gambir, Pukul 18.00
            C dan beberapa temannya adalah kuli panggul. Berseragam kuning, berebut masuk ke gerbong kereta Taksaka yang hampir berhenti. Berapa penghasilannya? Entahlah …mungkin saja mereka kurang beruntung, penumpang di gerbong yang mereka pilih tidak membutuhkan jasa mereka.
Stasiun Kota, Pukul 18. 15
            D adalah pedagang lontong. Mengenakan kaos hijau bertuliskan merek lontong.Tangan kiri memegang keranjang lontong, tangan kanan memegang kantong plastik berisi martabak. Berebut menjajakan dagangan, tangan cekatan menerima uang, memberikan dagangan, dan member kembalian. Begitu ada teriakan ‘Hijau..hijau…jalan’, mereka berebut keluar gerbong. Tak jarang pembeli tidak sempat menyodorkan uang padahal makanan sudah di tangan. ‘Besok aja teh..’, kata penjual lontong. Berapa penghasilannya? Entahlah…mungkin saja harus dipotong lontong terjual tanpa uang.
Masihkah merasa tidak beruntung dengan pekerjaan dan penghasilan yang kita miliki sekarang? Masihkah mengeluh pekerjaan itu sungguh membosankan?

Senin, 06 Juni 2011

Seri Kereta : Marah tanpa Tau Melampiaskan Kemarahan Pada Siapa

          Rabu, 1 Juni 2011, kira- kira jam 17.50 kereta Bekasi Ekspress yang saya tumpangi berhenti di Stasiun Jakarta Kota. Seperti biasa, kereta akan berhenti sekitar 5 menit di sana. Dalam kesempatan yang sangat sempit itu, pedagang asongan akan masuk ke dalam kereta menawarkan dagangannya. Mulai dari krupuk kulit, glowing, lontong bu nunung (tampaknya ini yang menjadi favorit), sampai kursi lipat akan dijual di dalam kereta. Saat perjalanan dari Stasiun Gondangdia ke Jakarta Kota, saya merasa ,gerbong wanita , tempat saya duduk saat itu dijaga oleh beberapa petugas keamanan.
           Ternyata inilah yang terjadi,begitu pintu kereta terbuka, petugas keamanan segera berjaga di pintu, melarang pedagang-pedagang itu untuk masuk kereta. Beberapa menurut, meneriakkan  dagangannya dari pinggir pintu, tapi ada beberapa juga yang nekat masuk ke dalam kereta, walaupun akhirnya dihardik oleh petugas keamanan yang siap berjaga. Dan hal yang tidak diduga terjadi. Seorang pedagang kursi lipat mendorong badan petugas. Keributan pun terjadi!ya, keributan antara petugas keamanan dan pedagang.


Sisi pedagang :
Kalian tidak tau bagaimana sulitnya jualan. Kami hanya menjual dagangan kami ! berilah kami kesempatan, toh ada juga yang mau beli di dalam kereta ! TIDAK ADIL!!!!

Sisi petugas keamanan :
Kalian tidak tau bagaimana sulitnya tugas kami harus menertibkan pedagang! Tugas kami adalah membersihkan stasiun dari pedagang. Itu tugas kami, dan untuk itulah kami dibayar. Tidak dapatkah pedagang bekerjasama???

Sisi penumpang :
Aduh..lapar..mana pedagangnya? aduh...kok nggak jalan sih keretanya...bikin telat aja sampai rumah !petugasnya arogan deh...pedagangnya bandel...bikin kereta telat!!!

Ada 3 sisi dari peristiwa itu. Saya tau, mereka masing- masing marah, kesal..tapi tidak tau harus melampiaskan kemarahan pada siapa. jelas, ketiga sisi itu saling bertabrakan, tidak menemukan titik temu, setidaknya saat peristiwa itu.  

Ya, sistemlah yang membuat kemarahan itu tidak terlampiaskan. Sistem yang mengkotak- kotakkan, sistem yang memihak satu sisi, tanpa memperhatikan sistem lain. Burukkah sistem itu? Bisa ya bisa tidak...Ya jika sistem itu kaku, hanya berpihak pada satu sisi tanpa mempertimbangkan sisi lain yang mengakibatkan kecemburuan dan konflik pada sisi yang lain. Tidak jika sistem itu seperti air, bergerak sesuai tempatnya, mempertimbangkan semua sisi, bukan adil tapi bijaksana dan masing- masing sisi tersebut saling bekerja sama dengan sisi yang lain.
Contohnya : bukankah lebih menyenangkan jika, pedagang tertib, di tempat khusus, dengan petugas yang mengingatkan keberadaan mereka, dan pembeli juga tidak nyampah?Bisa diatur kan?

Pertanyaan selanjutnya, bisakah sistem itu tercipta? Tentu bisa..bukankah itu PR untuk kita semua?
Semoga, tak ada lagi kemarahan yang tidak terlampiaskan. ENJOY!!!