Senin, 15 Agustus 2011

SUDAH BIASA !!!!


Pagi ini, ponsel saya berdering , panggilan dari Pak X, staff sebuah dinas.  Basa basi Bapak tersebut menanyakan, kapan saya akan ke kantornya, dan menanyakan apakah akta yang beliau minta sudah disiapkan , juga surat permohonan apakah sudah dibuat. Ujung-ujungnya minta upeti nih, pikir saya. Kenapa saya berpikiran demikian? Well, pengalaman saya selama 3 tahun lebih- hampir 4 tahun sebagai legal staff membuat saya mengerti 'kode-kode upeti'. Saya yakin, dokumen yang saya sertakan sudah lengkap, ya iyalah lengkap, kan tiap permohonan selalu dilampiri check list? Jika tidak lengkap, seharusnya sejak awal Beliau mengatakan: dokumen tidak lengkap, kan?
Ternyata dugaan saya benar ! ‘Mba, akta dilengkapi ya, surat permohonan juga dilengkapi, sama sekalian dananya, biar cepat’ Glek!! Jadi pagi ini menelpon saya sebenarnya hanya ingin mengatakan: dananya ya, biar cepat ! Bukan rahasia memang jika pengurusan dokumen seperti ini membutuhkan upeti. Jumlahnya bisa bervariasi tergantung negosiasi yang dilakukan.  Dulu, saya takut- takut juga dengan praktek semacam ini. Takut tidak dipercaya kantor, *sebagian besar upeti tentunya tidak disertai bukti tertulis*, takut jika tidak memberi urusan jadi tidak lancar. Tapi, lama kelamaan saya sudah biasa. Maksudnya biasa mengalami hal- hal semacam ini. Akhirnya saya punya tips seperti ini. Pertama , kalimat pamungkas jika menghadapi kasus seperti di atas adalah: ‘Yah, kemarin kan sudah Pak. Kantor saya kan Cuma kasih saya 2x bayar. Pertama untuk biaya percepatan, kedua untuk ambil dokumen. Kalo dokumennya belum jadi, saya nggak bisa ngeluarin uang.’ Ditambah dengan kata- kata mujarab ‘ Masa saya ambil dari kantong saya Pak, ntar saya nggak makan dong..kasian kan anak kost’ Jangan lupa ketika mengucapkan kalimat sakti itu, berikan senyum yang tulus…Masih kurang juga? Tambahkan kata-kata ‘Masa sih nggak percaya sama saya?kan bisa telpon ke kantor saya’ Biasanya jawaban yang akan kita peroleh adalah : ‘Yah, yang tanda tangan di dalam minta tuh Mbak’, Nah, berikanlah jawaban,’Apa perlu saya ke dalam untuk menjelaskan?’ Biasanya sih jawaban ini jitu…langsung mengkeret dan yang bersangkutan bilang ,’nggak usah, Mba..nanti saya usahakan’ NAH!
Tapi nggak semua urusan dokumen perlu upeti kok. Beberapa bahkan gratis dan sesuai prosedur.  Ada juga beberapa yang tadinya meminta upeti yang jumlahnya tidak sedikit langsung banting harga. Why? Yup..dengan pendekatan kata- kata dan basa – basi ! Yang ada malah obrolan ringan..cerita dari urusan sekolah, rumah tangga bahkan jodoh! Bahkan saya pernah diberi uang dari hasil upeti ini. ‘Untuk makan siang mba…’ begitu katanya…LOH..saya kasih upeti, eh, sedikit dari upeti itu diberikan pada saya. Penyebabnya adalah saya kekeuh minta kwitansi! Tenang..uang makan siang itu saya kembalikan ke kantor kok..:D
Saya kadang tidak habis pikir praktek semacam ini tumbuh subur. Kalau jumlahnya tidak seberapa , sekedar ongkos transportasi atau makan siang sih tidak masalah, tapi jika jumlahnya keterlaluan, saya terbakar juga..kesannya kedudukan menjadi tolok ukur. Biasanya saya akan bernegosiasi. Hmmm…negosiasi nominal upeti itu mirip nawar sayur di pasar !!! Apa boleh buat, hal semacam ini sudah biasa…
Urusan dokumen semacam ini sudah biasa saya lakukan. Hitung- hitung menjalin kerjasama kan? Saya nggak mau rugi donk, saya sudah memberikan upeti , tentunya saya minta balasan dengan bertanya tentang dokumen. Jika sudah tercipta chemistry, mereka terbuka kok untuk menjelaskan tentang dokumen. 
Semoga, segala urusan dokumen lancar jaya, tidak ada kesulitan berarti, dan jumlah upeti yang semakin berkurang…Amin…*kasihan finance, bikin report miscellaneous mulu dari tranksaksi yang saya lakukan :p*

Minggu, 14 Agustus 2011

Si Kaos Kaki Hitam, Refleksi !



                Beberapa hari yang lalu, mba Rifka, mengirimkan email dengan attachment  Si Kaos Kaki Hitam. Pesan di email itu singkat : aku lagi baca ini. Saya pun penasaran. Saya buka attachment. Wow, 400 halaman lebih. Hmm, dengan font Times New Roman, spasi 1, cukup ruwet juga membacanya. Singkat cerita: saya tidak tertarik. Lalu , Mba Rifka bilang bahwa attachment itu dia dapat dari seorang teman yang mendapat cerita itu dari kaskus. Saya penasaran, biasanya Mba Rifka membaca cerita yang menarik, berarti cerita yang mba Rifka kirim, pastilah menarik.
                Dan, saya mencuri jam kerja saya, untuk membaca cerita tersebut. Dan, cerita tersebut benar- benar menarik ! Alurnya pas, ceritanya sederhana, tapi cerita tersebut berhasil membawa saya ke suasana yang digambarkan cerita tersebut.  Cerita ini berkisah tentang Ari , yang merantau ke karawang dan berteman baik dengan Indra, kawan pertamanya di kos. Sejak kedatangannya, Ari melihat sosok wanita berkaos kaki hitam, Mevally. Rasa penasaran Ari terhadap sosok Meva membuat Ari kerap dicap ‘gila’ oleh Indra. Saya pun, awalnya mengira sosok Meva ini adalah sosok mistis. Cerita pun bergulir, akhirnya terjadilah persahabatan yang erat antara Ari, Indra dan Meva.
                Ada persahabatan dan cinta dalam cerita ini. Cerita di mana ketiganya saling membantu, berbagi dan bercerita. Cerita tentang seorang sahabat yang bahagia saat sahabatnya bahagia, cerita saat sahabat selalu hadir untuk meringankan beban sahabatnya. Cerita begitu mengalir. Satu hal yang saya tangkap dari cerita ini : Kebersamaan dalam situasi yang sama membuat persahabatan itu menemukan maknanya.  Kebersamaan itulah yang membuat sahabat terasa begitu dekat.
                Tokoh Ari dan Meva diceritakan saling menyimpan cinta yang tak sempat diungkapkan keduanya. Lebih dari sekedar kata cinta yang terucap, hati mereka memberikan cinta itu. Memberikan perlindungan, penerimaan dan mendukung. Itulah gambaran cinta mereka. Dan, cinta seperti itu bukan berarti akan menemukan tempat berlabuhnya. Bukan itu. Tetapi dengan cinta itulah mereka bertahan, untuk menjadi pribadi yang lebih baik , memanfaatkan dan menyimpan perlindungan, penerimaan dan dukungan yang mereka peroleh.  Tak bersama dengan cinta itu bukan berarti cinta itu hilang.  Tagline yang apik dari cerita ini : kenapa kenangan itu indah? Karena tidak akan terulang lagi, itu yang membuatnya berarti…sesuatu yang berulang akan menjadi biasa kan?
                Cerita ini juga mengisahkan tentang harapan. Ya, tokoh Meva yang digambarkan suka menyakiti diri sendiri dan introvert memiliki banyak luka dalam kesendiriannya. Meva yang memiliki keraguan dan ketakutan akan masa depannya akhirnya bangkit mencapai impiannya. Filosofi pion yang dianut Ari memberikan harapan pada Meva.Bahwa pion awalnya tidak memiliki artinya. Tetapi, setelah pion- pion itu melewati petak demi petak  dan pada akhirnya melewati semua ujian, sampailah di petak terakhir. Pion yang tidak berharga bisa bermetamorfosa menjadi benteng, kuda atau bahkan menjadi menteri.  Menurut saya, itulah hidup. Hidup  justru akan menjadi berharga saat berhasil melewati semua kesulitan- kesulitan, baik kecil maupun besar. Saat harapan masih ada, niscaya semua kesulitan itu akan teratasi.  Kadang, kita harus mengalami dulu hal yang tidak mengenakkan untuk merasakan hal yang membahagiakan. Semua itu membutuhkan proses, tidak instan… melalui proses itulah kita menemukan makna dari kehidupan, bukan?

             
         

Masa Emas, Nikmatilah!


                Pernahkan Anda merasakan masa emas? Saat ini, sebulan lalu, setahun lalu, atau Anda bahkan lupa kapan masa emas Anda?  Saya yakin, tiap manusia memiliki masa emas. Apa definisi masa emas untuk Anda? Saya mendifisinisikan masa emas sebagai saat bahagia dalam kehidupan.Ya, bahagia, sederhana...saat hati Anda berbunga karena kebahagiaan.
                Saat di bangku sekolah, bisa jadi itulah masa emas saat itu. Menjadi juara kelas, mempunyai banyak teman, atau mewakili sekolah untuk mengikuti perlombaan. Saat di bangku kuliah, bisa jadi itu masa emas. Punya IPK cumlaude, lulus tepat waktu, punya kekasih yang baik hati, atau karena beasiswa dari kampus. Saat bekerja, mungkin itu masa emas. Punya karier dan pendapatan yang baik, punya rekan kerja yang bersahabat layaknya keluarga. Saya yakin, kondisi itu membuat Anda tersenyum penuh kebahagiaan. 'Hidup saya terasa lengkap !'
                Beberapa hari ini, saya melihat beberapa teman saya sedang merasakan masa emas. Bahagia...saya pun turut bahagia melihat kebahagiaan mereka. Saya salah, masa emas menurut saya, ternyata bukan  masa emas  menurut mereka. Tiap orang punya masa emasnya masing- masing, dan ukuran masa emas tergantung pribadi masing- masing. Saya pun belajar, untuk mencapai masa emas itu membutuhkan waktu. Bukan instan.
                Hanya ada satu jalan : rasakan dan nikmati tiap kejadian yang terjadi..mungkin itulah saat masa emas Anda.


Kamis, 07 Juli 2011

Fix You

When you try your best, but you don't succeed
When you get what you want, but not what you need
When you feel so tired, but you can't sleep
Stuck in reverse
When the tears come streaming down your face
When you lose something you can't replace
When you love someone, but it goes to waste
Could it be worse?

Lights will guide you home
And ignite your bones
And I will try to fix you

High up above or down below
When you too in love to let it go
If you never try you will never know
Just what your worth

Lights will guide you home
And ignite your bones
And I will try to fix you

Tears stream down your face
When you lose something you cannot replace
Tears stream down on your face
And I..

Tears stream down your face
I promise you I will learn from my mistakes
Tears stream down on your face
And I..

Lights will guide you home
And ignite your bones
And I will try to fix you.
   
Fix You - Coldplay

           Lirik lagu di atas adalah lirik Fix You oleh Coldplay. Saya tersentuh oleh lagu itu. Saat kita merasa dalam kondisi lelah, maksud saya lelah secara emosional, pasti kita butuh tempat untuk bercerita, untuk menumpahkan penyakit emosi itu. Semoga lagu ini bisa  menjadi penyemangat untuk teman- teman yang sedang mengalami penyakit emosi... Lights will guide you home and ignate your bones and i will try to fix you....

Si Single yang Harus Naik Single Operation

            2 Juli 2011, akhirnya KRL Commuter Line dengan pola single operation resmi dimulai. Keluhan di sana sini masih ada saja. Di jam- jam 'panas' kereta menjadi transportasi yang tidak manusiawi. Kereta yang terlambat datang sesuai jadwal dan penumpang yang penuh sesak adalah 2 keluhan utama saat jam panas itu. Saya pun mengalaminya. 
mengubah jadwal kereta yang tadinya jam 7 tepat menjadi 6.25. Beda setengah jam sih, tapi effortnya luar biasa ! Untunglah, saya belum mempunyai tanggungan apa- apa selain diri saya sendiri. Saya membayangkan penumpang lain yang meninggalkan keluarganya lebih pagi dari biasanya. Rugi waktu! Entah kenapa, 4 loket karcis yang seharusnya beroperasi hanya 3 yang buka, 1 untuk kelas ekonomi, 1 untuk commuter line. Bisa dibayangkan, antrian mengular. Lagi- lagi, rugi waktu! Saya harus berada di baris antrian pertama jika ingin mendapatkan tempat duduk. jadi, begitu pintu kereta terbuka, saya harus berebut masuk dengan ibu-ibu yang lain. *saya selalu duduk di gerbong wanita* Saling sikut, saling dorong, adalah pemandangan yang lumrah tiap kali masuk gerbong kereta. begitu dapat tempat duduk, hmm jangan senang dulu! di depan saya akan ada ibu- ibu lain yang akan menggelar kursi lipatnya untuk duduk. Beradulah lutut saya dengan ibu itu. dan jangan berharap melonjorkan kaki seperempat saja. Tak bisa..kereta akan penuh.
Perjalanan menjadi kurang lebih satu jam...sabar...:D
           Jam panas di sore hari lebih seru lagi.Setiap pulang, bisa dipastikan, saya tidak akan berdiri sempurna di kereta. Mengapa? karena saya naik dari stasiun Gondangdia, artinya, penumpang sudah memenuhi kereta sejak Kota, Juanda, Gambir. Jangankan pegangan nyaman, dapat pegangan aja udah lumayan. Dan...tidak ada kursi lipat! Nekad pakai kursi lipat? bersiaplah tebal muka dan tebal telinga diomongin orang..oh ya, siap- siap juga kepala kena tas, punggung kena lutut orang..hehehe...saya suka begitu ke orang yang duduk di kursi lipat sih...:p heran deh, masih ada aja yang naik dari Jatinegara...rupanya, banyak juga yang memanfaatkan BCL ini.
Saya suka tertawa dengan komentar- komentar di Solidaritas Jabodetabek untuk KRL yang Lebih Baik. Ada aja...tapi yang menarik adalah komentar pedas yang mengatakan bahwa kebanyakan yang ga setuju dengan single operation adalah ex penumpang ekspress. Menurut komentar itu, penumpang ekspress tuh malas karena ga mau berangkat pagi... Ha ha ha...bukan males kale...tapi namanya fasilitas dengan uang yang jauh lebih ya harusnya sepadan dunk...Toh, kalo ekpress dinaikin tapi cepat juga tetep aja laku. Yakin deh...penumpang ekspress berani bayar lebih untuk waktu tempuh yang lebih cepat ! * mulai emosi* Jelas- jelas yang dibeli dari ekspress tuh waktu tempuhnya bukan ACnya, bukan kursi empuknya juga bukan gangguan sinyalnya.
          Nah, saya punya saran. Sebaiknya, gerbong KRL tuh diganti aja dengan kereta barang. Nah di lantai nya ada petak ukuran 30 x 30 cm . nah tiap orang, lahannya di situ. Adil kan? Konsekuen dunk..kereta muatnya untuk berapa orang. Terus, tetep ada tuh KRL ekpress. Jadi bayar lebih mahal. terus ada tuh commuter line yang seperti ac ekonomi dan ekonomi. Ah, tapi saya miris lihat kondisi kereta ekonomi. Kok bisa ya kereta yang seperti itu jalan?Ah, jangankan lihat interior dalamnya, luarnya aja udah keliatan banget tak terawat. Pantas lebih banyak yang duduk di atap.Isis ! *dingin*
           Tapi, apa boleh buat...tampaknya kereta menjadi sarana transportasi yang tidak merepotkan untuk saya. Sebenarnya, saya bisa naik apa saja sih. Pertama, naik motor...Kedua naik bis. Ketiga naik mikrolet. Setelah saya hitung- hitung waktu dan tenaga..tampaknya ketiga pilihan itu beda- beda tipis dengan naik kereta. Jadi, tak apalah naik kereta...single ini..ga punya tanggungan di rumah...jadi bebas pulang jam berapapun..ha ha ha ha
ENJOY!

Selasa, 05 Juli 2011

Memintal Duka...Membuang Nestapa

            Siang ini matahari tak cukup bersinar
          Dua orang duduk bertukar kabar
          Katanya, hatiku sedang terbakar
          Oleh duka yang tak kunjung pudar

Yang lain bertanya , apa yang harus  kulakukan
Tak perlu, cukuplah kau diam tak usah banyak pertanyaan
Aku tau doamu telah tersampaikan
tak ada yang perlu kau kawatirkan

           Memintal duka, membuang nestapa
      
             
         
         


         

Salah Lagi, Lagi- Lagi Salah

            Salah satu tugas saya di kantor adalah membuat perjanjian atau bahasa kerennya legal drafting. Sebenarnya, sebagai seorang legal staff, tugas ini adalah tugas yang paling saya sukai. Pertama, saya bisa diskusi dengan para user, kedua saya bisa menyusun kalimat- kalimat yang mengakomodir semua keinginan para pihak dan tentunya sesuai dengan aturan hukum yang berlaku.
        Pengalaman saya di kantor sekarang sungguh berbeda dibandingkan di kantor lama.  Seringkali saya membuat perjanjian dengan infomasi yang kurang lengkap. Kadang,  saya salah tangkap dengan objek perjanjian yang dimaksud. Misalkan, user  butuh perjanjian tentang penjualan online yang dikelola oleh klien user, tapi saya menangkapnya, penjualan online ditangani oleh user. Nah, di kantor sekarang, direktur yang notebene pihak yang berhak menandatangani perjanjian akan mengoreksi draft saya habis- habisan. Kenapa saya bilang habis- habisan? Karena beliau akan mengoreksi pasal demi pasal ! Hmm, tiap kali menghadap, saya akan merasa seperti bimbingan skripsi. jadi, tiap kali saya masuk ke ruangannya, saya akan bilang ke sekretarisnya :'Mo bimbingan , Mbak'
         Nah, tiap kali saya membuat perjanjian, selalu saja ada koreksi dari beliau. Bukan hal yang menyangkut substansi hukumnya sih, tapi lebih ke kepentingan user. Jadi, keinginan user seringkali tidak sesuai dengan kebijakan direktur saya. Saya jadi repot! User bilang draft saya sudah oke, ternyata di direktur ditolak. Ribet...saya bolak balik ke user, direktur, balik lagi ke user, ke direktur...akhirnya..saya bawa user  ke direktur. *hanya untuk perjanjian kerjasama , saya harus bolak- balik* Dan..benar!!! terjadi miskomunikasi antara user dan direktur.Arghhh...
         Pernah suatu kali, saya miss tidak memasukkan satu pasal tentang sanksi. Padahal salah satu pihak ternyata wanprestasi. Tuiingggg....negosiasi lagi deh...salah lagi salah lagi... Jadi, beberapa kali membuat perjanjian, saya mengambil kesimpulan sebagai berikut
Pertama, sebelum membuat perjanjian berdiskusilah untuk membicarakan kepentingan para pihak. Jangan hanya menerima kerjaan tanpa penjelasan yang informatif.
Kedua, jangan hanya percaya pada user, bagaimanapun juga yang akan menandatangani perjanjian tersebut adalah direktur, jadi pastikan direktur sudah membaca dan jangan lupa, bubuhkan paraf user di tiap halaman, tanda bahwa user juga telah membaca serta memahami perjanjian.
Ketiga,THINK OUT OF THE BOX. Selain menuangkan kepentingan para pihak di pasal- pasal perjanjian, berpikirlah lateral...kira-kira hal apa yang berhubungan dengan kepentingan tersebut. Inilah yang dinamakan drafting.
Keempat , buatlah perjanjian dengan kata- kata yang singkat, padat dan jelas. Tidak perlulah meniru kata- kata di KUH Perdata..user yang bukan orang hukum, justru akan malas membacanya :p


Semoga lain kali saya tidak salah- salah lagi ya...