Kamis, 21 Oktober 2010

Obrolan Siang : OBSESI itu Tidak Datang dari Hati

           Siang kemarin, saya berinteraksi dengan seorang teman di dunia maya. Kami membicarakan tema yang tidak akan pernah basi untuk dibicarakan : Jatuh Cinta. Singkat cerita, teman saya ini menceritakan pengalamannya, menyatakan dirinya sedang berbunga- bunga dan sedang memiliki hati yang sedang tidak menentu.
           Sebagai teman yang baik, saya memberinya kesempatan untuk bercerita panjang lebar, menceritakan dan mengartikan semua tanda dan sinyal yang diberikan Sang Penarik Perhatian untuknya.Saya tahu bagaimana perasaannya sekarang, karena itu saya membebaskannya untuk bercerita apa saja. Sebenarnya, saya menebak inti dari semua ceritanya berujung pada sebuah pertanyaan : ' Astrid, bagaimana kelanjutannya, apakah Sang Penarik Perhatian akan bersama dengan saya? Saya takut akan kecewa lagi..' Sejujurnya, saya tidak dapat menjawab pertanyaannya, saya pun tak dapat mengartikan semua tanda dan sinyal yang diceritakan teman saya.
            Saya tidak meninggikan harapan teman saya dengan mempositifkan semua tanda dan sinyal yang dikirim Sang Penarik Perhatian, sebaliknya saya juga tidak merendahkan harapan teman saya itu dengan memberikan citra negatif pada Sang Penarik Perhatian. Saya mengatakan : Stay Cool, ingatlah satu hal, jika Sang Penarik Perhatian memang akan bersamamu, jalani saja alurNya. Janganlah membuat alur sendiri..artinya tidak perlulah berlebihan mengartikan semua sinyal dan tanda itu.
            Pertanyaan teman saya masih berlanjut dan saya tau intinya juga cuma satu : Astrid, saya ingin bersamanya. Saya pun mengatakan ' Jangan sekarang, jika pertanyaan itu sudah terlontar, berarti jatuh cinta itu sudah berubah wujud menjadi OBSESI. Obsesi itu tidak datang dari hati, tapi pikiranlah yang mengendalikan obsesi itu. Pikiran itu sudah dipengaruhi lingkungan sekitar. Dan saya pun mulai menebak alurnya, teman saya akan melakukan aktifitas yang akan menarik Sang Penarik Perhatian dan jika aktifitas tersebut tidak berhasil memperoleh tanggapan  maka teman saya akan kecewa. Saya tekankan padanya : ' Jika kamu merencanakan kegiatan, menanyakan dan mengartikan semua arti tanda dan sinyal dari Sang Penarik Perhatian dengan caramu sendiri, berarti rasa yang kamu rasakan telah berubah menjadi Obsesi dan itu tidak datang dari hati.
              Saya percaya, untuk memulai suatu hubungan, harus ada aksi dan reaksi yang sama besarnya. Inilah yang dinamakan jatuh cinta yang sebenarnya, datang dari hati, tidak dipengaruhi aktifitas lain (*trik*). Jika orang itu tertarik  maka orang itu akan mengirimkan aksi dan kita akan memberikan reaksi yang sama besarnya. Sama besar, tidak timpang. Mungkin ini terlalu naif, tapi coba kita renungkan, bukankah ketika aksi dan reaksi itu sama besarnya tidak akan ada kekecewaan?
              Jadi, saya memberikan pesan pada teman saya: ikutilah alurNya, bukan alurmu..mungkin berteori memang mudah, tapi jika itu diikuti, niscaya rasa jatuh cinta akan tetap ada dan tidak akan berubah wujud menjadi obsesi yang tidak datang dari hati.

ENJOY!

Note : Tulisan ini saya persembahkan untuk teman saya yang sedang mengalami 'pasang surut hati' dan mengijinkan saya untuk menuliskannya...Semangat! semoga segera menemukan jalan...^_^

2 komentar:

  1. bu dokter cinta nih astrid

    BalasHapus
  2. ah berarti mba rifka profesor cinta dunk..baik..minta ilmunya prof!

    BalasHapus