Rabu, 27 April 2011

Ilmu, Idealisme, dan Sekolah

            Jika saya mengajukan pertanyaan 'Untuk apa Anda sekolah? Apa cita- cita Anda ?' Lalu, apa jawaban Anda? Jika saya bertanya, ' Apa idealisme itu?' , apa jawaban Anda?
        Kemarin saya menunggu di suatu tempat. Kurang lebih 5 jam saya di tempat itu. Selama saya menunggu, saya ingat masa sekolah dan kuliah saya. Saya ingat teman- teman saya, ingat guru- guru saya, ingat dosen- dosen saya dan saya bertanya dalam hati ' Sedang apakah mereka?','bagaimana kabar mereka?' dan saya ingat obrolan- obrolan dengan mereka, ilmu dan idealisme yang menyatu dalam sebuah pernyataan. Manis dan kuat, tak tergoyahkan. 'masihkah mereka seperti itu ?'
        Saya membayangkan, jika orang yang saya temui ini adalah salah satu dari teman- teman saya. Apa jadinya? Malukah dengan idealisme dan ilmu yang dulu kami agungkan?Saya tertawa miris dan saya sangat berharap, orang yang saya temui hari ini bukanlah teman- teman saya.
        Ilmu dan idealisme itu ternyata bisa dibeli oleh urusan perut.Untuk apa sekolah tinggi- tinggi? Lebih baik kurikulum dibentuk untuk urusan perut bukan untuk membentuk pikiran dan empati manusia.Jadi untuk apa sekolah tinggi- tinggi jika ilmu dan idealisme hanya tempelan belaka?
       

4 komentar:

  1. bener, apalagi urusannya menyangkut kesenangan. hahaha.

    BalasHapus
  2. saya berharap idealisme saya masih terjaga nantinya

    BalasHapus
  3. idealisme emang jd berantakan kalo dihadapkan sama uang:(

    BalasHapus
  4. Ciye...template baru.

    BalasHapus